Upaya Mariana Mengangkat Batik Ponorogo

Kompas.com - 15/10/2009, 21:41 WIB

Oleh Louis Rika Stevani

Menorehkan canting pada kain untuk dijadikan selembar batik bukanlah hal yang sulit bagi Mariana (60), seorang ibu yang mewarisi keahlian tersebut secara turun-temurun sejak kecil.

Bagi perempuan yang bergiat di sentra batik di Jalan Semeru, Kabupaten Ponorogo, Jatim, itu, membatik merupakan bagian dari hidup dan sumber mata pencahariannya.

Ia  mendirikan kelompok pengrajin batik pada awal 1980-an. Dalam kurun waktu itu, sedikitnya sudah 25 motif batik asli Ponorogo  ia ciptakan.

"Batik Ponorogo terkenal dengan motif meraknya yang diilhami dari kesenian reog  yang menjadi ikon di daerah ini. Sedikitnya sudah ada 25 motif batik yang saya ciptakan untuk menjadi motif asli, di samping batik motif Jawa yang dikenal pada umumnya," ujar Mariana.

Dari 25 motif yang ia ciptakan, yang menjadi andalan adalah motif  Merak Tarung, Merak Romantis, Sekar Jagad, dan Batik Reog. Namun, pihaknya juga menerima pembuatan batik tulis yang motifnya sesuai dengan keinginan pembeli.

"Biasanya ada juga pembeli yang menginginkan motif tertentu. Maka, saya tinggal membuat desainnya untuk kemudian digambarkan ke kain. Namun, biasanya tidak jauh dari motif khas batik ponorogo," kata dia.

Untuk mengikuti perkembangan, pihaknya tidak hanya membuat batik tulis, namun juga batik cetak.

Dalam kesehariannya membatik, lanjut wanita yang memiliki tiga putra itu, ia dibantu  seluruh anggota keluarganya. Jumlah itu masih ditambah dengan anggota kelompok pengrajin batik besutannya yang berjumlah hingga 10 orang.

"Waktu itu namanya Kelompok Perajin Batik Mekar Jaya. Tapi, kok, sampai sekarang tidak ’jaya-jaya’ (berkembang), ya?" katanya sambil tertawa.

Merasa kurang beruntung, akhirnya Mariana memutuskan untuk mengubah nama kelompok itu menjadi Kelompok Kerajinan Batik Sofi, yang diambilkan dari nama salah satu putrinya. Meski demikian, secara keseluruhan perkembangan batik Ponorogo masih jauh dari harapan.

"Memang ada perubahan, namun hanya sedikit. Secara umum, hingga kini keberadaan batik Ponorogo masih jauh dari makmur. Tentunya, banyak sekali faktor yang mempengaruhinya," ujarnya serius.

Ia mengungkapkan, kendala terbesar yang dihadapi saat mengembangkan batik ponorogo, selain kurang modal dan promosi, adalah maraknya pembajakan atau penjiplakan motif asli yang menjadi ciri khas untuk kepentingan komersial.

"Ironisnya, pemerintah daerah sendiri juga tidak serius menghadapi masalah penjiplakan motif asli yang kami hadapi. Padahal, penjiplakan ini berdampak pada matinya kreativitas pembatik untuk berkembang, karena setiap hasil karya yang tercipta tidak mendapat keuntungan yang memadai," ucapnya.

Karena itu, kata Mariana, pengakuan batik sebagai salah satu warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia oleh UNESCO, membawa harapan baru bagi para pembatik di Ponorogo. Para pembatik merasa memiliki kekuatan baru.

"Kami menjadi lebih optimistis akan masa depan batik, terlebih untuk batik Ponorogo. Keberadaan batik tulis menjadi memiliki sedikit harapan untuk bangkit kembali. Tentunya, hal ini juga harus gayung bersambut dengan perhatian dari pemerintah baik pusat maupun daerah setempat," katanya.

Dengan adanya penetapan dari UNESCO, Mariana berharap, ada tindak lanjut dari pemerintah daerah, seperti memberikan kesempatan dan penghargaan bagi para seniman dan perajin batik. Sehingga penetapan tersebut tidak hanya sekadar pengesahan tanda milik, namun lebih cenderung untuk melindungi tradisi membuat batik.

"Rasanya akan sia-sia perolehan pengakuan tingkat internasional tersebut jika tidak memberikan dampak positif bagi pembatik dan pelaku bisnis batik di Indonesia, akibat ketidakpedulian pemerintah terhadap kekayaan luhur ini," katanya.

Salah satu hal yang masih menjadi ancaman saat ini adalah penjiplakan motif. Modusnya, rancangan batik tulis dari salah satu pengrajin atau seniman batik langsung dijiplak oleh produsen batik pabrikan atau "printing".

"Hal ini yang seharusnya menjadi acuan pemda setempat. Diharapkan ada langkah pencegahan penjiplakan seni batik. Sehingga, motif khas batik suatu daerah dipatenkan dan diakui hak ciptanya untuk tidak ditiru demi kepentingan komersial semata," tutur Mariana.

Regenerasi terhambat

Belum diakuinya hak cipta dan sulitnya proses pembuatan batik yang memerlukan beberapa hari, membuat batik ponorogo sulit melakukan regenerasi. Kalangan generasi muda enggan  menekuni seni membatik, karena rumitnya proses pembuatan yang tidak ditunjang dengan hasil yang diterima.

Para generasi muda lebih banyak memilih bekerja di luar daerah atau negeri ketimbang berkutat dengan canting, malam (bahan pewarna batik), ataupun  menekuni kegiatan membatik lainnya. Keadaan ini pula yang menjadi alasan batik ponorogo semakin terpuruk keberadaannya.

Guna mengatasi sulitnya regenerasi itu, Mariana berusaha mendekati para ibu muda yang ada di sekitar desanya untuk bergabung.

"Mungkin untuk tahap awal adalah pengenalan dahulu. Namun, nanti lama-lama diharapkan para ibu muda ini memiliki rasa kepedulian untuk mengembangkan batik ponorogo yang menjadi salah satu bagian dari motif batik yang dimiliki oleh Indonesia," ujarnya berharap.

Kepala Dinas Industri, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Ponorogo, Yusuf Pribadi mengakui keberadaan batik di Ponorogo masih lesu. Hal itu dipicu oleh keberadaan motif yang tersedia masih monoton.

"Secara umum, batik ponorogo hanya menonjolkan motif merak saja. Sehingga  kalah bersaing dengan batik Jawa Tengah yang memiliki motif dan corak yang beragam. Kreativitas pembatik dalam hal ini sangat diuji," katanya.

Meski demikian, pihak pemerintah daerah berusaha semaksimal mungkin untuk mendukung kemajuan batik ponorogo untuk menjadi salah satu ikon Ponorogo seperti layaknya reog.

Pemkab Ponorogo juga berencana untuk andil dalam ajang pameran batik khas daerah yang akan digelar Pemerintah Provinsi Jatim, dalam waktu dekat ini.

"Tentunya batik yang akan diajukan adalah batik ponorogo tersebut. Hal ini juga merupakan wadah bagi batik ponorogo untuk dikenal di dunia luar," katanya.

Selain itu, ke depan, pemda dan pembatik berupaya untuk mematenkan motif batik ponorogo supaya memiliki hak cipta.

"Hal ini untuk melindungi para pembatik jika ada ulah penjiplakan di waktu-waktu mendatang. Namun untuk hak paten masih perlu dibahas lebih lanjut lagi, yang pasti acuan ke arah sana ada," kata Yusuf.

Guna meningkatkan keahlian dan kreativitas, tambah Yusuf, pemda juga terus melakukan pelatihan dan pembinaan bagi pembatk Ponorogo. Diharapkan dengan pembinaan ini, pembatik Ponorogo akan menciptakan batik khas Ponorogo lainnya yang  diminati pasar.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau